Stoikisme akhir-akhir menarik perhatian saya karena ada kemiripan dengan Buddhisme dan Taoisme. Kedua filsafat terakhir ini sudah saya ikuti sejak masa kuliah karena sejauh ini dapat memberi panduan dan ketenangan. Buku ini saya dapat dari salah satu artikel di Google Discover yang menyajikan daftar buku-buku Stoikisme modern.
HOW TO BE STOIC:Using Ancient Phylosophy to Live in A Modern Life
Massimo Pigliucci (2017)
“Stoicism is not about denying your emotions, but about understanding them and learning to respond to them in a healthy way."
Buku ini adalah panduan praktis filsafat Stoikisme dalam kehidupan modern dengan membahas prinsip-prinsip yang diikuti oleh Socrates, Epictetus, dan Cato tentang hasrat, tindakan dan persetujuan. Pigliucci memulai buku ini dengan menjelaskan prinsip-prinsip Stoikisme, seperti dikotomi kendali, kefanaan, dan pentingnya kebajikan. Ia juga membahas penerapannya ke berbagai sisi kehidupan seperti: kerja, hubungan sosial.
Hasrat: Fokus pada apa yang dapat kita kendalikan dan menerima hal-hal di luar kendali kita. Yang di dalam kendali kita adalah tindakan dan sikap kita. Contoh hal-hal di luar kendali kita adalah ucapan dan tindakan orang lain, kejadian eksternal, dan kematian.
Tindakan: Terapkan empat kebajikan utama Stoikisme: keberanian, kebijaksanaan, keadilan dan pengendalian diri. Kita juga harus berkontribusi pada masyarakat.
Persetujuan: Jangan terbawa oleh pikiran dan emosi negatif. Kita harus terus-menerus mempertanyakan keyakinan dan penilaian kita, serta tidak hanyut oleh kemarahan, ketakutan dan kesedihan.
Salah satu inti ajaran Stoikisme adalah fokus pada apa yang dapat kita kendalikan dan menerima hal-hal di luar kendali kita. Artinya adalah melepaskan kekhawatiran tentang hal-hal di luar kendali kita, seperti ucapan dan perilaku orang lain. Alih-alih, kita fokus pada pilihan dan tindakan kita, dan berusaha hidup menurut nilai-nilai yang kita anut.
Prinsip Stoikisme yang penting lainnya adalah kefanaan. Segala sesuati di dunia ini selalu berubah, termasuk pikiran dan emosi kita serta kejadian di sekitar kita. Jika kita menerima kefanaan, jika kita menyadari tak ada yang abadi, kita akan terbebaskan. Kita dapat melepaskan dari beban keterikatan dan benar-benar hidup di saat ini.
Prinsip terakhir, Stoikisme mengajarkan bahwa hidup yang terbaik adalah hidup dengan menerapkan kebajikan, yaitu: kebijaksanaan, keberanian, keadilan dan pengendalian diri. Ketika kita menerapkan keempat kebajikan ini, kita hidup sesuai dengan fitrah kita dan memenuhi potensi kita sebagai manusia.
Kesimpulan dari buku ini adalah:
Fokus pada apa yang dapat kita kendalikan dan menerima yang di luar kendali kita.
Segalanya fana.
Hidup dengan menerapkan kebijaksanaan, keberanian, keadilan dan pengendalian diri.
Jangan terbawa pikiran dan emosi negatif.
Di bagian terakhir buku ini, Pigliucci memberikan contoh latihan praktis, yaitu:
Periksa pikiran dan emosi kita tentang segala sesuatu yang terjadi pada kita.
Ingatkan diri kita tentang kefanaan.
Bersiaplah atas segala kemungkinan atas tindakan kita.
Terapkan kebajikan dalam hidup kita.
Berhenti sebentar dan tariklah napas.
Berpikir dan merasakan seperti orang lain.
Berbicara seperlunya dan tentang hal baik.
Pilih teman yang baik.
Balas hinaan dengan humor.
Jangan banyak membicarakan diri sendiri.
Jangan menghakimi.
Buat renungan tiap hari.
Massimo Pigliucci adalah profesor filsafat di City College, New York. Beliau memiliki gelar PhD di bidang genetika, biologi evolusi dan filsafat. Banyak jurnal, artikel umum (di New York Times dan Washington Post) dan buku yang telah beliau tulis.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar